Tasikmalaya, Fokus9.com_ Ancaman kekeringan kemarau 2026, beberapa wilayah di Jawa Barat seperti Garut mengalami kekeringan ekstrem. Imbasnya, beberapa wilayah di Kota Tasikmalaya kena dampak karena merupakan hilir dari aliran airnya

“Kami sudah perintahkan serta kolaborasi untuk mencari solusi serta langkah termasuk koodinasi dengan BBWS.” kata Wakil Walikota Tasikmalaya, Rd. Diky Candra, Kamis (9/7/2026)
Dari sisi lain Diky menyoroti target dari sektor pertanian serta upaya meminimalisir imbas musim kemarau yang mulai membayangi Kota Tasikmalaya. Karena, penurunan drastis pasokan air permukaan kini mengancam sektor ketahanan pangan.
Debit Air Menyusut Tajam
Debit air dari berbagai sumber permukaan yang mengaliri 29 Daerah Irigasi (DI) di bawah pengelolaan SDA terpantau menyusut tajam.
“Rata-rata debit aliran air dari sumber yang menjadi kewenangan kita sekarang sudah menipis. Musim kemarau menyebabkan sumber mata air dan Situ Gede volumenya sudah sangat sedikit.” kata Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR) Kota Tasikmalaya Rino Isa Muharam
Wilayah yang paling terdampak saat ini, ungkap Rino mencakup Kecamatan Purbaratu, Cibeureum, dan sebagian Tamansari. Kawasan tersebut sangat bergantung pada mata air dan situ yang kini mulai menyusut.
Selain faktor alam, kerusakan infrastruktur fisik menjadi tantangan berat. Pihaknya mengakui banyak saluran irigasi yang mengalami kerusakan konstruksi di berbagai titik yang memicu pemborosan air.
“Banyak saluran yang rusak dan harus segera diperbaiki. Kalau tidak, air akan merembes terbuang di tengah jalan dan wilayah hilir tidak akan kebagian suplai,” tutur Rino.
Saat ini, pihaknya mengupayakan perbaikan kebocoran-kebocoran saluran irigasi dan pembersihan aliran sungai secara rutin. “Ini sangat penting dilakukan demi menjaga kestabilan suplai air untuk ketahanan pangan di tengah musim kemarau.” jelasnya
Air permukaan Situ Gede tampak menyusut (kamis, 9/7/2026)
Adaptasi Pola Tanam
Sementara, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) merespon cepat dengan mengimbau para petani untuk segera melakukan adaptasi/penyesuaian pola tanam
Data sektor pertanian menunjukkan wilayah terdampak meluas hingga hampir 10 kecamatan, dengan titik kritis utama di Purbaratu, Kawalu, Tamansari, dan Mangkubumi.
“Kolaborasi antara pemerintah dan petani menjadi kunci utama meredam dampak kemarau. Melakukan adaptasi dan mencari solusi untuk mengantisipasi dampak kekeringan.” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Anisah Kardiayati, Rabu (8/7/2026) lalu
Sebagai langkah antisipasi gagal panen, Anisah Kardiayati menyarankan petani melakukan manajemen pola tanam. Jika air tidak mencukupi untuk padi biasa, petani diimbau beralih ke varietas yang lebih tahan kekeringan.
Namun, jika kondisi di lapangan sudah ekstrem tanpa ketersediaan air, opsi terbaik adalah membiarkan lahan beristirahat atau bera.
“Daripada gagal, beberapa bulan untuk tidak ditanami. Sekalian untuk memutus siklus (hama). Kalau misal ada sumber penyakit yang ada di lahan, momen sekarang justru bisa digunakan supaya lahannya netral lagi,” urai Anisah.
Hingga saat ini, DKP3 memastikan belum ada laporan mengenai puso atau gagal panen total di lahan produktif Kota Tasikmalaya, yang memiliki Luas Baku Sawah (LBS) mencapai 4.689 hektar.
“Kalau terancam kekeringan sampai tanahnya belah-belah itu ada, tapi masih bisa diantisipasi dengan sistem gilir air. Kami terus berkoordinasi dengan BBWS dan unit pengelola air irigasi,” kata Anisah @rl/ad












