Fokus9.com_ Di tanah Flores suara burung bukan hanya lantunan alam biasa. Masyarakat adat meyakini salah satunya membawa pesan dari alam.

Dalam kepercayaan sebagian masyarakat adat, burung ini bukan hanya burung kicau biasa. Mereka percaya burung ini merupakan burung penjaga yang menghubungkan dunia manusia dengan arwah para leluhur.
Mereka menganggap suara burung ini suci, menandakan bahwa roh-roh nenek moyang masih menjaga tanah dan hutan tempat mereka dulu hidup
Menghormati, menjaga bahkan melibatkan burung ini dalam adat ritual tertentu sebagai bagian dari penghormatan kepada alam dan roh-roh leluhur
Sayangnya, tidak semua orang memahami makna ini. Banyak yang hanya melihatnya sebagai burung kicauan tanpa menyadari nilai spiritual dan budayanya
Menjaga bukan hanya melindungi burung langka tetapi juga menjaga warisan roh leluhur yang pernah hidup melalui burung kecil yang Bernama Samyong
Mengenal Burung Samyong Dalam Budaya dan Adat Danau Kalimutu (RY WildLife)
Burung Samyong dengan nama ilmiah Pachycephala nudigula merupakan jenis burung yang memiliki suara kicau merdu, penuh variasi dan lantang
Burung ini kerap mendapat julukan burung 1001 suara karena memiliki keistimewaan dalam mengolah dan membawakan lagu-lagu kicaunya. Berbeda dengan jenis burung lainnya, burung Samyong mempunyai kicaunya sendiri
Burung ukuran sedang sekitar 18-19 cm ini menyukai Kawasan kering di dataran rendah yang rindang (rimbun). Biasanya akan naik ke ranting-ranting pohon yang tidak terlalu tinggi untuk mencari makanan, bahkan mengais semut di tanah
Berdasarkan literatur, Samyong memiliki nama asli kancilan flores atau bare-throated whistler, burung endemik atau hanya terdapat di Nusa Tenggara

Penduduk di sekitar Kawasan Taman Nasional Kalimutu menyebutnya burung Garugiwa (burung arwah) karena kerap muncul di sekitar danau kalimutu. Danau Kalimutu adalah danau kawah yang berada di puncak gunung berapi di NTT
Sesuai dengan warna-warna yang ada di dalam danau, Tiwu atau Danau Kalimutu terbagi menjadi tiga bagian. Warga menganggap danau-danau ini merupakan tempat sakral yakni tempat kumpulnya arwah para leluhur
Danau dengan air warna biru (tiwu Nuwa Muri Koo Fai) merupakan tempat kumpulnya jiwa muda mudi yang telah meninggal. Danau merah (Tiwu Ata Polo) merupakan tempat kumpulnya jiwa-jiwa orang selama hidupnya melakukan kejahatan/perbuatan buruk. Sedangkan danau putih (Tiwu Ata Mbupu) merupakan tempat kumpulnya jiwa orang-orang tua yang telah meninggal
Penduduk sekitar danau kalimutu percaya pada saat terjadi perubahan warna pada danau, mereka harus memberikan sesajen bagi arwah leluhur. Mitosnya, jika air dari danau-danau tersebut bercampur, maka sebuah bencana besar bakal datang menghampiri mereka
Oleh karena itu, masyarakat adat percaya, keberadaan burung Gurugiwa (Samyong) di lokasi tersebut untuk menjaga roh para leluhur @RYW/ad
foto dok/net












