Tasikmalaya, Fokus9.com_ Ketika kita sepakat memilih jalan demokrasi sebagai cara dalam perikehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, keberadaan dan peran media massa yang sehat dan berkualitas menjadi sebuah keniscayaan
Ingar bingar media massa saat ini hendaknya tetap berada dalam kontrol yang bertanggung jawab, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat yang bhineka dan demokratis

Kebebasan Pers yang ada saat ini rawan terhadap berbagai gangguan, baik dari pihak yang tidak suka dengan kebebasan pers maupun dari penyalahgunaan kebebasan pers itu sendiri
Dalam konteks ini harus juga diakui ada sebagian dari insan pers yang memanfaatkan kebebasan pers bertentangan dengan fungsi dan peranan yang ada.
Terlepas dari itu, Mafhum kiranya penilaian bahwa kebebasan pers dewasa ini sebagai Euforia kebebasan yang nyaris tanpa batas. Oleh karena itu perlu kiranya kita mengedepankan Jurnalisme Positif dalam kehidupan Jurnalisme Indonesia.
Karena sejatinya kebebasan pers juga menjamin semakin terpenuhinya hak masyarakat untuk tahu terhadap berbagai peristiwa yang sedang terjadi (Theoharis, 1998 : 160)
Jurnalisme Positif dan Kebebasan Pers
Jurnalisme itu sendiri seharusnya sudah menyuguhkan hal yang positif, karena didalamnya sudah ada formula dengan Rumus baku persyaratan berita yang klasik 5-W (Who, What, When, Where, Why) dan 1-H (How) serta Kode Etik Jurnalistik.
Kode Etik Jurnalistik menempati posisi yang sangat vital dan memiliki kedudukan yang sangat istimewa bagi jurnalis. Sehingga wartawan bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya ; mencari dan menyajikan informasi termasuk dibatasi oleh ketentuan hukum ( Undang-undang Pers Nomor 40 Tahun 1999)

Baca Juga : Hari Pers Nasional 2024, Media Tidak Boleh Kehilangan Kredibilitas Dan Independensinya
Jurnalis yang baik, seharusnya Profesional, Independen dan memiliki Integritas yang tinggi apalagi bila ditunjang penyelenggaraan inhouse training bagi wartawan dan Redaktur dari perusahaan pers-nya. Ia juga tak canggung menulis berbagai jenis berita, mulai dari straight news, breaking news sampai feature
Dengan kata lain skill maupun personal quality ataupun integritasnya benar-benar mumpuni.
Lebih dari itu, ia punya the nose of news (kemampuan mengendus berita) serta memilahnya, mana yang biasa-biasa saja, mana yang layak dimuat atau bahkan berita ekslusif.
Disamping itu Jurnalis harus mampu melihat dengan jeli apa yang disebut news value-sebagaimana kata Charles A Dana (1882) “ When a dog bite a man that is not a news, but when a man bites a dog that is a news “
Baca Juga : Menjamurnya Praktek Korupsi Dana Desa, Akibat Banyak Kades Yang Tidak Paham Aturan
Selain itu, ia mampu pula menembus sumber berita, tidak hanya melakukan wawancara yang lazim, melainkan juga mampu melakukan Investigative reporting, kemudian menyajikannya sebagai feature yang mendalam, Indeph reporting, Indeph feature

PERS Pilar Keempat Demokrasi
Sebagai pilar keempat demokrasi, peran pers dewasa ini menjadi sangat signifikan. Tentunya harus dilandasi dengan etika profesi yang semuanya bisa mengarah kepada Jurnalisme positif yang dimaksud
Dalam hal ini, Insan pers wajib menjaga dan mempertahankan integritasnya serta senantiasa berusaha menyajikan berita yang berimbang, adil, tidak bias dan tidak provokatif
Selain itu harus memberi porsi besar dalam fungsi edukatif yang diembannya, sehingga memberikan pencerahan kepada masyarakat guna turut serta dalam upaya memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia sebagaimana cita-cita proklamasi yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945.
Inilah peran dan tanggung jawab terbesar sebuah media massa
Baca Juga : Monumen Gegerhanjuang Menjadi Titik Central Geopark Galunggung
Menjaga Martabat dan Integritas Pers
Media massa harus dikelola secara profesional, mematuhi kode etik jurnalistik, memahami tugas mengungkap kebenaran fakta, baik fakta sebenarnya maupun kebenaran di balik fakta, dan senantiasa berusaha mengejawantahkan kebebasan yang bertanggung jawab serta berpihak kepada publik. Dengan begitu, media bisa membantu publik secara objektif dalam upaya menemukan kebenaran peristiwa.
Selain sebagai distributor informasi, pers harus mempunyai upaya kritis mencerdaskan publik, baik dalam aspek intelektual-akademis maupun budaya.
Disamping itu, Insan pers harus memiliki kriteria dan kaidah jurnalisme sebagai pegangan dalam membingkai peristiwa serta memiliki keterampilan memilah informasi yang benar dan penggunaannya secara tepat sebagai akibat dari banjir informasi dalam perkembangan teknologi
Untuk hal tersebut, diperlukan sumber pengetahuan dasar yang terkait sehingga ‘salah kutif’ dapat dihindarkan.
Visi idealisme media adalah memberi informasi mencerahkan dan bisa dipercaya.Melalui idealisme itu media bisa berperan sebagai sarana pendidikan dan meningkatkan partisipasi rakyat dalam menentukan kebijakan publik.
Informasi yang disajikan bertujuan agar pembaca memiliki sikap kritis, meningkatkan kedalaman berfikir dan mandiri.
Media harus berupaya menempa ke-’khas’-annya dalam membangun demokrasi di Indonesia dengan tidak terseret mencari sensasi, tapi menegaskan ciri multikulturalnya, menghormati deontologi jurnalisme (menghormati privacy, praduga tak bersalah dan plularitas) melalui jurnalisme inklusif, kritis dan berimbang serta Membantu pembaca menjadi kritis dan refleksif untuk ambil bagian dalam kebijakan publik.
Penulis berharap, Idealisme Pers yang merupakan fungsi hakiki yang melekat padanya perlu ditumbuhkan agar Insan Pers mampu menjaga Integritas dan martabatnya sehingga menjadi Pers yang kredibel dan berwibawa @ Ayi Darajat












