Tasikmalaya, Fokus9 | Perbandingan anggaran pengelolaan limbah medis dan belanja obat di RSUD KHZ Musthafa menimbulkan persepsi keliru soal prioritas layanan rumah sakit
Data pengadaan pemerintah menunjukkan biaya limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) tercatat lebih besar dibandingkan anggaran obat.
Dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) LKPP Tahun 2026, RSUD KHZ Musthafa mengalokasikan dana sebesar Rp1,224 miliar untuk jasa pengelolaan limbah B3. Sementara belanja obat yang tercantum hanya Rp600 juta
Hal ini munculkan pertanyaan di tengah masyarakat soal prioritas layanan medis. Sebagian pihak menafsirkan seolah selisih ini lebih mengutamakan pengelolaan limbah ketimbang kebutuhan pasien.
Menyikapi hal tersebut Kepala Bidang Penunjang Pelayanan Kesehatan RSUD KHZ Musthafa, dr. Sudaryan menjelaskan bahwa pembacaan data tersebut tidak utuh.
Menurutnya, angka belanja obat dalam aplikasi SIRUP hanya mencakup mekanisme pengadaan lewat e-purchasing untuk jenis obat tertentu. “Bukan keseluruhan belanja obat rumah sakit,” jelas dr. Sudaryan, Rabu (14/2/2025).
Ia menyebut kebutuhan obat di RSUD KHZ Musthafa sangat besar seiring tingginya kunjungan pasien yang mencapai sekitar 11 ribu orang setiap bulan.
Untuk menjamin ketersediaan kebutuhan obat di rumah sakit KHZ Musthafa, selain mengandalkan e-purchasing juga menggunakan skema pengadaan langsung.
Skema pengadaan langsung tersebut justru menyerap anggaran jauh lebih besar, dengan nilai rata-rata sekitar Rp3 miliar setiap bulan. “Mekanisme ini digunakan untuk memastikan stok obat tetap tersedia tanpa terkendala waktu.” tutur dr. Sudaryan
Ia menambahkan, secara keseluruhan, anggaran obat nilainya jauh melampaui biaya pengelolaan limbah. Semua tetap mengacu pada e-katalog dan aturan yang berlaku

Anggaran Pengelolaan Limbah B3 Sesuai Dengan Volume Limbah Medis
Saat ini, pengelolaan limbah B3 RSUD KHZ Musthafa oleh pihak ketiga yang memiliki ijin dan keahlian khusus. Jadi, tidak bisa sembarangan karena penanganan limbah ini harus memenuhi standar keselamatan dan perlindungan lingkungan
Berdasarkan catatan tahun sebelumnya, RSUD KHZ Musthafa memproduksi sekitar 8,5 ton limbah medis per bulan atau lebih dari 100 ton dalam setahun.
“Besarnya anggaran limbah B3 sebanding dengan volume limbah medis yang dihasilkan rumah sakit.Sedangkan membengkaknya anggaran pengelolaan limbah karena intensitas layanan rumah sakit yang terus meningkat.” ungkap Sudaryan
Namun demikian, Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengenyampingkan pemenuhan pelayanan medis terkait kebutuhan obat untuk pasien RSUD
“Kami memastikan stok tetap terjaga, sementara pelaksanaan pengelolaan limbah sesuai standar yang ada agar tidak menimbulkan dampak di masa mendatang.” pungkas Sudaryan *HR@ad












