Tasikmalaya, Fokus9.com_ Prasasti Rumatak/Linggawangi atau Prasasti Gegerhanjuang mengungkap latar belakang terbentuknya suatu wilayah yang diberi nama TASIKMALAYA
K.F. Holle menemukan prasasti Gegerhanjuang ini tahun 1877 di lereng Gunung Galunggung, punggung gunung Gegerhanjuang. Tepatnya, di kampung Rawa Girang Desa Linggawangi Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya

Prasasti dalam tiga baris tulisan/aksara dengan ukuran Tg 6 cm L 6-14 cm tersebut terpahat pada sebuah batu pipih. Fragmen fisik batu bentuk hampir setiga tersebut memiliki ukuran P 85 cm, L 62 cm, Tb 28 cm
Saat ini, fragmen fisik prasasti Gegerhanjuang/Rumatak/Linggawangi ini tersimpan di Museum Pusat Jakarta dengan nomor inventaris D.26
Sedangkan, Replika Prasasti Gegerhanjuang ini terletak di Desa Linggamulya Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya dalam Komplek Monumen Geger Hanjuang

“Prasasti Gegerhanjuang memiliki spirit psikologis untuk menghargai dan mewarisi semangat hidup dan semangat juang para leluhur.” kata Bupati Tasikmalaya Ade Sugianto saat Prasasti tersebut dipamerkan pada Hari Jadi Kabupaten Tasikmalaya ke-387 (19-23/7/2019)
Ade Sugianto mengharapkan asset sejarah ini akan tumbuh menjadi asset budaya dan Asset ilmiah dengan terus menggali dan mengembangkannya
Dia pun meyakini bahwa dalam rangkaian benda-benda bersejarah itu tersimpan mutiara hikmah dan dapat menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan.
Komplek Monumen Geger Hanjuang Refleksi Berdirinya Kerajaan Galunggung
Komplek Monumen Geger Hanjuang merupakan bangunan refleksi berdirinya Kerajaan Galunggung tanggal 21 Agustus 1111, dengan titik sentral Prasasti Rumatak Gegerhanjuang. Aset sejarah ini sekaligus menjadi peletak dasar penentuan Hari Jadi Tasikmalaya

Tangga menuju prasasti dengan jumlah 21 undakan melambangkan tanggal dan Segi delapan/Oktagonal penyangga monumen melambangkan bulan (Agustus). Sedangkan Pilar depan terdapat 4 tiang masing-masing membentuk angka 1 yang melambangkan Tahun (1111)
Mengunjungi Monumen Geger Hanjuang di Desa Linggamulya merupakan kegiatan Napak Tilas Prasasti Rumatak Geger Hanjuang setiap Peringatan Hari Jadi Tasikmalaya.
“Maknai napak tilas ini sebagai jiarah hati dan intelektualitas yang memiliki banyak makna. Dan menjadi spirit psikologis untuk menghargai serta mewarisi semangat hidup dan semangat juang para leluhur.” ujar Bupati Ade Sugianto
Hal itu mengacu kepada Amanat leluhur Tasikmalaya (Raja Galunggung penerus Ratu Batari Hyang) pada abad XII dari Prabu Guru Darmasiksa.
Dalam bahasa aslinya ; “Hana Nguni hana Mangke, Tan hana Nguni Tan hana mangke, Aya ma Baheula aya tu Ayeuna, Heunteu ma baheula, Heunteu ma Ayeuna, Hana tunggak hana watang,hana ma tunggulna, aya tu catangna”.
Ungkapan itu menurut Asisten Daerah Asep Darisman mengisyaratkan bahwa leluhur kita telah sangat memahami tentang adanya siklus kehidupan. Secara alamiah, siklus ini seperti mata rantai yang tidak terputus
“Tersirat pula adanya keharusan kita untuk mengenang, mempelajari dan mengambil hikmah dari kehidupan masa lalu, untuk kebaikan kehidupan kita saat ini.” ungkap Asep Darisman
Rencananya, Prasasti Geger Hanjuang akan di Replikasi yang kongruen dengan Prasasti yang ada di Musium Pusat Jakarta @ad












